Restorasi Gambut sebagai Bentuk Peduli Indonesia

Indonesia merupakan negara yang memiliki lahan gambut terluas di antara negara tropis, yaitu sekitar 21 juta ha atau 10.8% dari luas daratan Indonesia. Lahan rawa gambut sebagian besar terdapat di empat pulau besar yaitu di Sumatera 35%, Kalimantan 32% Papua 30% dan sebagian kecil ada di Sulawesi, Halmaera dan Seram 3%.

Lahan gambut merupakan bagian dari sumber daya alam yang memiliki fungsi untuk pelestarian sumberdaya air, peredam banjir, pencegah intrusi air laut, pendukung berbagai kehidupan atau keanekaragaman hayati, pengendali iklim (melalui kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan karbon) dan sebagainya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Namun, seiring perkembangan zaman, lahan gambut mengalami pro dan kontra akibat pemanfaatan lahan gambut yang salah sehingga menimbulkan masalah lingkungan. Ingatkah kalian dengan kebakaran hutan dan lahan tahun 2015?

Kebakaran hutan dan lahan terjadi secara masif melanda Indonesia pada tahun 2015. Berdasarkan data yang ada di pantaugambut.id, 52% lahan yang terbakar adalah lahan gambut. Lahan gambut yang terbakar setara dengan 32 kali luas Jakarta. Daerah terparah yang terkena kebakaran lahan gambut adalah sebagian Sumatera dan Kalimantan. Ini merupakan kebakaran tahunan yang di daerah tersebut. Namun, tahun 2015 merupakan kebakaran parah yang terjadi dan menarik perhatian.

Badan Geologi, Kementrian Energi Sumber Daya Alam dan Manusia mengatakan “Kebakaran ini disebabkan terjadinya fenomena el-Nino yang ditandai dengan musim kemarau yang tidak normal yang terjadi secara periodik antara 4 – 5 tahun. El-Nino terparah sebelumnya juga terjadi pada 1997/1998 yang mengakibatkan lahan gambut dan hutan terbakar. Kebakaran gambut juga terjadi karena disengaja untuk pembuatan kebun sawit”

Berbagai upaya dilakukan dalam rangka pemadaman api di lahan gambut. Gambut yang terbakar akan kering kemudian menimbulkan asap hitam yang pekat. Lahan gambut yang kering menyebabkan kebakaran sulit dipadamkan karena lahan gambut akan kering sampai kedalaman tertentu. Jika nampak dari permukaan gambut, api bisa padam namun api yang ada di kedalaman tertentu tetap membara dan akan sulit dideteksi. Oleh karena itu, lahan gambut tidak boleh kering dan dibakar. Selain itu, hambatan utama yang dihadapi adalah sulitnya memperoleh air di dekat lokasi kejadian serta jalan menuju lokasi kebakaran yang sulit dijangkau. Kebakaran lahan gambut yang sudah parah dan meluas akan mudah dipadamkan dengan hujan yang intensif tinggi. Seperti yang terjadi di Kalimantan Tengah dan Riau yang bisa padam hanya setelah hujan besar melanda kedua daerah tersebut.

Banyak dampak yang timbul akibat kebakaran lahan gambut. Contohnya yaitu

akibat kebakaran

Sebagian wilayah Indonesia pun tertutup oleh kabut tebal seperti foto yang dilansir MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer)

Titik api tersebar di Kalimantan seperti yang terlihat dari foto yang berasal dari MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) yang dirilis pada 28 September 2015.

Titik api tersebar di Kalimantan seperti yang terlihat dari foto yang berasal dari MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) yang dirilis pada 28 September 2015.

Kebakaran lahan gambut mengakibatkan kekhawatiran masyarakat Indonesia karena dapat menimbulkan lepasnya Emisi gas rumah kaca (GRK) yang tentu berpengaruh pada perubahan iklim. Perubahan iklim berpotensi untuk menghambat pembangunan Indonesia, memperparah kemiskinan, dan menyebabkan berbagai masalah yang membahayakan kesehatan dan keamanan manusia, seperti menurunnya kualitas air, cuaca panas ekstrem, serta meningkatnya frekuensi banjir, kekeringan, dan badai.

Hal tersebut tentu merugikan masyarakat Indonesia sekitar secara langsung dan masyarakat dunia secara tidak langsung. Mengingat akan kerugian besar akibat kebakaran lahan gambut, pemeritah, masyarakat sipil dan pelaku usaha harus bekerja sama melindungi lahan gambut dan merestorasi lahan gambut yang ada di Indonesia.

 

Sumber video : Kantingan Mentaya Project

 

Restorasi gambut adalah proses panjang untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut; sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terkena dampak dari menyusutnya lahan gambut.

Kita sebagai masyarakat Indonesia turut dalam melindungi gambut dengan pantau gambut. Pantau Gambut bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya perlindungan gambut dalam konteks perlindungan lingkungan hidup, pengurangan emisi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dengan menggabungkan teknologi, data terbuka, dan jaringan masyarakat, masyarakat dapat memantau komitmen restorasi lahan gambut yang dilakukan oleh pemerintah, organisasi masyarakat sipil, serta pelaku usaha sehingga restorasi gambut dapat lebih terarah dan efektif dalam pelaksanaannya.

Pemerintah telah membentuk Badan Restorasi Gambut untuk berupaya merestorasi lahan gambut melalui pendekatan 3R: rewetting atau pembasahan gambut, revegetasi atau penanaman ulang, serta revitalisasi atau restorasi sumber mata pencaharian.

Berdasarkan analisis WRI, upaya restorasi 2 juta hektar gambut—yang tercantum dalam Peraturan Presiden no. 1/2016 tentang Pembentukan Badan Restorasi Gambut—dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 7,8 gigaton. Ini kira-kira setara dengan emisi gas rumah kaca Amerika Serikat selama setahun.

Langkah-langkah restorasi lahan gambut :

Langkah 1: Memetakan gambut

Pemetaan gambut dilakukan dengan menentukan lokasi gambut yang menyusut dan mengetahui tipe serta kedalamannya. Kondisi gambut yang berbeda memerlukan jenis restorasi yang berbeda pula, misalnya dalam menentukan letak pembuatan sekat kanal untuk mengatur kadar air. Metodologi yang seragam, tepat guna, dan murah untuk mengukur kedalaman gambut merupakan hal penting untuk mencapai restorasi yang efektif.

Indonesia memiliki peta sebaran lahan gambut nasional dari Kementerian Pertanian tahun 2011. Peta ini berperan penting dalam mengidentifikasi sebaran lahan gambut dan indikasi ketebalannya.

Langkah 2: Menentukan jenis, pelaku, dan rentang waktu pelaksanaan restorasi

Pelaku restorasi dapat menentukan jenis restorasi yang sesuai dengan kondisi gambut. Ada gambut yang perlu melewati siklus pembasahan terlebih dahulu, ada juga yang dapat langsung ditanam ulang (revegetasi). Setelah menentukan jenis restorasi, baru dapat ditentukan pemangku kepentingan mana saja yang terlibat dan rentang waktu pelaksanaannya.

Langkah 3: Membasahi gambut/rewetting

Pembasahan gambut bertujuan untuk mengembalikan kelembapannya. Pada tahap ini, penataan air juga diperlukan, misalnya dengan membuat kanal buatan agar air tetap berada di lahan gambut. Selain itu, sumur bor juga dapat membantu proses pembasahan di daerah yang mengalami kekeringan.

Langkah 4: Menanam di lahan gambut/revegetasi

Ketika lahan gambut sudah kembali lembap, lahan bisa kembali ditanami. Pilih tanaman yang tidak mengganggu siklus air dalam ekosistem gambut, seperti jelutung, ramin, pulau rawa, gaharu, dan meranti. Beberapa tanaman seperti kopi, nanas, dan kelapa juga merupakan tanaman yang ramah gambut dan mempunyai nilai ekonomi untuk masyarakat lokal.

Proses penanaman akan menjaga keberlangsungan ekosistem gambut, memperkokoh sekat kanal, serta melindungi lahan gambut dari kikisan aliran air kanal.

Langkah 5: Memberdayakan ekonomi masyarakat lokal

Restorasi lahan gambut tidak hanya memulihkan ekosistem lahan gambut tetapi juga memperhatikan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Masyarakat perlu memiliki alternatif yang tepat untuk memanfaatkan lahan gambu. Jika tidak, mereka akan kembali mengeringkan lahan gambut untuk menanam tumbuhan yang kaya nilai ekonomi, namun tidak ramah gambut. Restorasi dilakukan bersama masyarakat sekitar gambut. Ini bisa dilakukan dengan pengolahan lahan gambut yang baik dan penanaman ramah gambut, seperti penanaman sagu, karet, kopi, dan kelapa—atau dengan menggalakkan perikanan dan pariwisata alam.

Mari bersama-sama melindungi dan merestorasi gambut, Ayo #pantaugambut

 

Sumber :

Youtube : Kantingan Mentaya

http://pantaugambut.id/

http://geomagz.geologi.esdm.go.id/gambut-indonesia-luas-tersebar-dan-mudah-terbakar/

http://www.mongabay.co.id/2013/09/30/lahan-gambut-indonesia-bom-waktu-emisi-karbon-dunia/

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s